Gunung Sinai

Bagi yang pernah pergi ke Mesir, rasanya belum lengkap kalau tidak mendaki Gunung Sinai. Gunung terjal itu menjadi saksi bisu diturunkan-Nya dua loh batu berisi hukum taurat kepada Musa.

Dalam rubrik Musafir edisi Februari 2010 ini, Bahana menuliskan kisah perjalanan ke Mesir. Di Negara tersebut, tersimpan banyak jejak-jejak orang-orang suci dalam Alkitab, selain bangunan-bangunan kuno seperti Pyramid, patung Spinx, dan gereja-gereja setempat. Namun, satu dari ikon wisata di kota itu, yang paling berkesan adalah Gunung Sinai.

BERJALAN DENGAN IMAN
Gunung Sinai terletak di Semenanjung Sinai (Sinai Peninsula) di utara Mesir dan berbatasan langsung dengan Israel. Gunung setinggi 2.285 meter dan berada di barisan pegunungan di sebelah selatan semenanjung tersebut merupakan tempat favorit untuk dikunjungi wisatawan di negara tersebut.

Kami berangkat ke Gunung Sinai dari pukul satu dini hari waktu setempat dengan naik onta. Semua peserta holyland waktu itu diwajibkan membawa lampu senter. Dan begitulah, kami mengikuti salah satu pemandu untuk berjalan menuju gunung yang tercatat dalam Perjanjian Lama tersebut.

Ketika jam menunjukkan angka lima waktu setempat, ketika matahari begitu nampak terbit. Lukisan ilahi yang tak tertandingi kami saksikan dengan penuh ucapan syukur. Perasaan takjub juga kami alami ketika kami berada di puncak. Kami takjub akan kebesaran Tuhan. Kami juga baru tahu bahwa perjalanan yang kami tempuh dari kaki gunung sengaja harus dimulai jam satu dini hari supaya keberangkatan itu tidak terlihat. Ternyata kami harus melampaui bukit-bukit terjal, dan tinggi. Baru saya sadari pula, ketika kami melihat ke bawah, waahhhh cukup mengerikan. Penuh jurang-jurang curam, yang bisa jadi membuat orang yang melihatnya bergidik. Jika saja orang yang naik ke sana phobia terhadap ketinggian. Apa jadinya? Bisa jadi malah tidak jadi naik, atau terkencing-kencing di celana?

Namun secara rohani, saya menangkap, bahwa perjalanan hidup kita harus beriman kepada setiap janji Tuhan, ujar salah satu anggota sidang gembala GBI KA Solo, Pdt. Matius Sutikno. Hidup itu dijalani dengan iman dan percaya, bukan dengan melihat. Kalau kita melihat banyak masalah, persoalan, dan banyak yang menakutkan, kita bisa takut. Apalagi jika mendengar kabar-kabar bencana alam dan berbagai persoalan yang melanda dunia akhir-akhir ini. Namun, kalau kita berpegang teguh dengan janji Tuhan, kita bisa menghadapinya dengan langkah yang pasti, melihat keajaiban Tuhan.

JEJAK MUSA
Keberadaan Gunung Sinai, tak lepas dari kisah tentang Musa yang diutus Tuhan memimpin Bangsa Israel. Selama empat puluh hari Musa berada di gunung itu. Di gunung itu pula, Allah menuliskan Sepuluh Hukum pada dua loh batu. Dia berkata kepada Musa bagaimana Dia menginginkan umat-Nya untuk Hidup.

Musa menerima doa loh batu berisi sepuluh perintah Allah tersebut. Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah. (Kel 31 : 18)

Sementara Musa berada bersama Tuhan di gunung itu, orang-orang Israel malah melakukan sesuatu yang mengerikan. Mereka meminta Harun, kakak Musa untuk membuatkan sebuah anak lembu emas. Mereka pun menyembahnya sebagai pengganti Tuhan. Melihat patung lembu emas dan orang menari-nari, Musa sangat marah. Dia banting dua loh batu itu ke tanah. Lantas, Musa merusak patung emas itu dan membunuh orang-orang jahat yang menyembah patung emas itu.

NASI GORENG MINYAK ZAITUN
Bagi lidah dan perut orang Asia, khususnya Indonesia makanan di Mesir kurang bersahabat. Bukan lantaran kehigienisan, melainkan selera dan rasa. “Wah, kok saya tidak bisa ya makan daging besar, dengan bumbu serba menyengat,” ucap Sutikno yang ketika di Mesir memilih makan masakan Chinese Food. “Pernah, saya rasakan nasi goreng berminyak zaitun, wah rasanya kok tidak pas, meskipun untuk kesehatan lebih baik.”

Selain ke Gunung Sinai, kami juga sempat mengunjungi gereja-gereja kuno di Mesir, Sumur Musa, Pyramid, Spinx, Sungai Nil. Sutikno bercerita, ia makan bersama peserta dan sejumlah pejabat di Indonesia di dalam sebuah kapal pesiar diiringi tarian perut dan irama musik khas Mesir sembari mengelilingi Sungai Nil, tempat dialirkannya bayi Musa. Selama dua jam mengelilingi sungai tersebut, pengunjung harus mengeluarkan kocek senilai 200 ribu rupiah, atau 20 dolar.

Ini tentu saja berbeda dengan Pastur Gereja San lnigo, Romo Budi Wihandono Pr yang tidak menjadikan sungai Nil sebagai tujuan wisata rohaninya. Baginya tempat tersebut kurang tepat untuk berziarah lantaran sudah terlalu gemerlap dengan hiburan-hiburan yang kurang mendukung kerohanian.

MENEMBUS GURUN
Setelah selesai mengelilingi negeri Firaun tersebut, biasanya melanjutkan ke Jerusalem. Perjalanan panjang menggunakan bus, tentu saja tidak terasa letihnya. Tapi jika diukur jarak yang ditempuh, setidaknya Romo Budi dapat merefleksikan betapa Tuhan selalu menyertai umat-Nya dalam setiap perjalanan. “Seperti perjalanan ketika Musa pergi dari tanah perbudakan menuju Kanaan. Berapa lama di tempuh? Seberapa beratnya perjalanan? Tentunya memang harus dengan penyertaan Tuhan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s